ISO 9001 merupakan standar internasional di bidang sistem manajemen mutu.
Suatu lembaga/organisasi yang telah mendapatkan akreditasi (pengakuan
dari pihak lain yang independen) ISO tersebut, dapat dikatakan telah
memenuhi persyaratan internasional dalam hal manajemen penjaminan mutu
produk/jasa yang dihasilkannya.
Selamat Datang di blog Keperawatan Parepare. Laman ini memuat berbagai informasi terkait kampus Poltekkes Makassar Program Studi Keperawatan Parepare (dc)
Selasa, 05 Juni 2012
Kamis, 31 Mei 2012
Penerimaan Mahasiswa Baru 2012
Penerimaan Calon Mahasiswa Baru untuk tahun ajaran 2012/2013 Politeknik Kesehatan Kemenkes Makassar melalui sistem On-line.
Dengan sistem ini, diharapkan dapat memudahkan Pendaftar tanpa harus mengantri di loket pendaftaran.
Dengan sistem ini, diharapkan dapat memudahkan Pendaftar tanpa harus mengantri di loket pendaftaran.
Rabu, 09 Mei 2012
IND 2012
INTERNASIONAL NURSES DAY 2012
Selasa, 05 Juli 2011
ASKEP AIDS
AIDS
Pengertian
- AIDS atauAcquired Immune Deficiency Sindrome merupakan kumpulan gejala penyakit akibat menurunnya system kekebalan tubuh oleh vurus yang disebut HIV. Dalam bahasa Indonesia dapat dialih katakana sebagai Sindrome Cacat Kekebalan Tubuh Dapatan.
Acquired
: Didapat, Bukan penyakit keturunan
Immune
: Sistem kekebalan tubuh
Deficiency
: Kekurangan
Syndrome
: Kumpulan gejala-gejala penyakit
- Kerusakan progrwsif pada system kekebalan tubuh menyebabkan ODHA ( orang dengan HIV /AIDS ) amat rentan dan mudah terjangkit bermacam-macam penyakit. Serangan penyakit yang biasanya tidak berbahaya pun lama-kelamaan akan menyebabkan pasien sakit parah bahkan meninggal.
- AIDS adalah sekumpulan gejala yang menunjukkan kelemahan atau kerusakan daya tahan tubuh yang diakibatkan oleh factor luar ( bukan dibawa sejak lahir )
- AIDS diartikan sebagai bentuk paling erat dari keadaan sakit terus menerus yang berkaitan dengan infeksi Human Immunodefciency Virus ( HIV ). ( Suzane C. Smetzler dan Brenda G.Bare )
- AIDS diartikan sebagai bentuk paling hebat dari infeksi HIV, mulai dari kelainan ringan dalam respon imun tanpa tanda dan gejala yang nyata hingga keadaan imunosupresi dan berkaitan dengan pelbagi infeksi yang dapat membawa kematian dan dengan kelainan malignitas yang jarang terjadi ( Center for Disease Control and Prevention )
- Etiologi
T.
- Patofisiologi
Sel
T dan makrofag serta sel dendritik / langerhans ( sel imun ) adalah sel-sel
yang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus ( HIV ) dan terkonsentrasi
dikelenjar limfe, limpa dan sumsum tulang. Human Immunodeficiency Virus ( HIV )
menginfeksi sel lewat pengikatan dengan protein perifer CD 4, dengan bagian
virus yang bersesuaian yaitu antigen grup 120. Pada saat sel T4 terinfeksi dan
ikut dalam respon imun, maka Human Immunodeficiency Virus ( HIV ) menginfeksi
sel lain dengan meningkatkan reproduksi dan banyaknya kematian sel T 4 yang
juga dipengaruhi respon imun sel killer penjamu, dalam usaha mengeliminasi
virus dan sel yang terinfeksi.
Dengan menurunya jumlah sel T4, maka system imun
seluler makin lemah secara progresif. Diikuti berkurangnya fungsi sel B dan
makrofag dan menurunnya fungsi sel T penolong.
Seseorang yang terinfeksi
Human Immunodeficiency Virus (HIV ) dapat tetap tidak memperlihatkan gejala
(asimptomatik) selama bertahun-tahun. Selama waktu ini, jumlah sel T4 dapat
berkurang dari sekitar 1000 sel perml darah sebelum infeksi mencapai sekitar
200-300 per ml darah, 2-3 tahun setelah infeksi.
Sewaktu
sel T4 mencapai kadar ini, gejala-gejala infeksi ( herpes zoster dan jamur
oportunistik ) muncul, Jumlah T4 kemudian menurun akibat timbulnya penyakit
baru akan menyebabkan virus berproliferasi. Akhirnya terjadi infeksi yang
parah. Seorang didiagnosis mengidap AIDS apabila jumlah sel T4 jatuh dibawah
200 sel per ml darah, atau apabila terjadi infeksi opurtunistik, kanker atau
dimensia AIDS.
- Klasifikasi
Sejak 1 januari 1993, orang-orang dengan
keadaan yang merupakan indicator AIDS (kategori C) dan orang yang termasuk
didalam kategori A3 atau B3 dianggap menderita AIDS.
- Kategori Klinis A
Mencakup satu atau
lebih keadaan ini pada dewasa/remaja dengan infeksi Human Immunodeficiency
Virus (HIV) yang sudah dapat dipastikan tanpa keadaan dalam kategori klinis B
dan C
- Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang simptomatik.
- Limpanodenopati generalisata yang persisten ( PGI : Persistent Generalized Limpanodenophaty )
- Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV ) primer akut dengan sakit yang menyertai atau riwayat infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang akut.
- Kategori Klinis B
Contoh-contoh keadaan
dalam kategori klinis B mencakup :
- Angiomatosis Baksilaris
- Kandidiasis Orofaring/ Vulvavaginal (peristen,frekuen / responnya jelek terhadap terapi
- Displasia Serviks ( sedang / berat karsinoma serviks in situ )
- Gejala konstitusional seperti panas ( 38,5o C ) atau diare lebih dari 1 bulan.
- Leukoplakial yang berambut
- Herpes Zoster yang meliputi 2 kejadian yang bebeda / terjadi pada lebih dari satu dermaton saraf.
- Idiopatik Trombositopenik Purpura
- Penyakit inflamasi pelvis, khusus dengan abses Tubo Varii
- Kategori Klinis C
Contoh keadaan dalam kategori pada dewasa dan remaja mencakup :
- Kandidiasis bronkus,trakea / paru-paru, esophagus
- Kanker serviks inpasif
- Koksidiomikosis ekstrapulmoner / diseminata
- Kriptokokosis ekstrapulmoner
- Kriptosporidosis internal kronis
- Cytomegalovirus ( bukan hati,lien, atau kelenjar limfe )
- Refinitis Cytomegalovirus ( gangguan penglihatan )
- Enselopathy berhubungan dengan Human Immunodeficiency Virus (HIV)
- Herpes simpleks (ulkus kronis,bronchitis,pneumonitis / esofagitis )
- Histoplamosis diseminata / ekstrapulmoner )
- Isoproasis intestinal yang kronis
- Sarkoma Kaposi
- Limpoma Burkit , Imunoblastik, dan limfoma primer otak
- Kompleks mycobacterium avium ( M.kansasi yang diseminata / ekstrapulmoner
- M.Tubercolusis pada tiap lokasi (pulmoner / ekstrapulmoner )
- Mycobacterium, spesies lain,diseminata / ekstrapulmoner
- Pneumonia Pneumocystic Cranii
- Pneumonia Rekuren
- Leukoenselophaty multifokal progresiva
- Septikemia salmonella yang rekuren
- Toksoplamosis otak
- Sindrom pelisutan akibat Human Immunodeficiency Virus ( HIV)
5. Gejala Dan Tanda
Pasien AIDS secara khas punya riwayat
gejala dan tanda penyakit. Pada infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV)
primer akut yang lamanya 1 – 2 minggu pasien akan merasakan sakit seperti flu.
Dan disaat fase supresi imun simptomatik (3 tahun) pasien akan mengalami demam,
keringat dimalam hari, penurunan berat badan, diare, neuropati, keletihan ruam
kulit, limpanodenopathy, pertambahan kognitif, dan lesi oral.
Dan disaat fase infeksi Human Immunodeficiency
Virus (HIV) menjadi AIDS (bevariasi 1-5 tahun dari pertama penentuan kondisi
AIDS) akan terdapat gejala infeksi opurtunistik, yang paling umum adalah
Pneumocystic Carinii (PCC), Pneumonia interstisial yang disebabkan suatu
protozoa, infeksi lain termasuk menibgitis, kandidiasis, cytomegalovirus,
mikrobakterial, atipikal
- infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV)
Acut gejala tidak khas
dan mirip tanda dan gejala penyakit biasa seperti demam berkeringat, lesu
mengantuk, nyeri sendi, sakit kepala, diare, sakit leher, radang kelenjar getah
bening, dan bercak merah ditubuh.
- Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) tanpa gejala
Diketahui oleh
pemeriksa kadar Human Immunodeficiency Virus (HIV) dalam darah akan diperoleh
hasil positif.
- Radang kelenjar getah bening menyeluruh dan menetap, dengan gejala pembengkakan kelenjar getah bening diseluruh tubuh selama lebih dari 3 bulan.
6. Komplikasi
a. Oral Lesi
Karena kandidia, herpes simplek, sarcoma
Kaposi, HPV oral, gingivitis, peridonitis Human Immunodeficiency Virus (HIV),
leukoplakia oral,nutrisi,dehidrasi,penurunan berat badan, keletihan dan cacat.
b. Neurologik
- kompleks dimensia AIDS karena serangan
langsung Human Immunodeficiency Virus (HIV) pada sel saraf, berefek perubahan
kepribadian, kerusakan kemampuan motorik, kelemahan, disfasia, dan isolasi
social.
- Enselophaty akut, karena reaksi
terapeutik, hipoksia, hipoglikemia, ketidakseimbangan elektrolit, meningitis /
ensefalitis. Dengan efek : sakit kepala, malaise, demam, paralise, total / parsial.
-. Infark
serebral kornea sifilis meningovaskuler,hipotensi sistemik, dan maranik
endokarditis.
- Neuropati
karena imflamasi demielinasi oleh serangan Human Immunodeficienci Virus (HIV)
c.
Gastrointestinal
- Diare karena
bakteri dan virus, pertumbuhan cepat flora normal, limpoma, dan sarcoma Kaposi.
Dengan efek, penurunan berat badan,anoreksia,demam,malabsorbsi, dan dehidrasi.
- Hepatitis
karena bakteri dan virus, limpoma,sarcoma Kaposi, obat illegal, alkoholik.
Dengan anoreksia, mual muntah, nyeri abdomen, ikterik,demam atritis.
- Penyakit
Anorektal karena abses dan fistula, ulkus dan inflamasi perianal yang sebagai
akibat infeksi, dengan efek inflamasi sulit dan sakit, nyeri rectal,
gatal-gatal dan siare.
d. Respirasi
Infeksi karena
Pneumocystic Carinii, cytomegalovirus, virus influenza, pneumococcus, dan
strongyloides dengan efek nafas pendek,batuk,nyeri,hipoksia,keletihan,gagal
nafas.
e. Dermatologik
Lesi kulit
stafilokokus : virus herpes simpleks dan zoster, dermatitis karena xerosis,
reaksi otot, lesi scabies/tuma, dan dekobitus dengan efek nyeri,gatal,rasa
terbakar,infeksi skunder dan sepsis.
f. Sensorik
- Pandangan :
Sarkoma Kaposi pada konjungtiva berefek kebutaan
- Pendengaran :
otitis eksternal akut dan otitis media, kehilangan pendengaran dengan efek
nyeri.
7.
Penatalaksanaan
Belum ada
penyembuhan untuk AIDS, jadi perlu dilakukan pencegahan Human Immunodeficiency
Virus (HIV) untuk mencegah terpajannya Human Immunodeficiency Virus (HIV), bisa
dilakukan dengan :
- Melakukan
abstinensi seks / melakukan hubungan kelamin dengan pasangan yang tidak
terinfeksi.
- Memeriksa
adanya virus paling lambat 6 bulan setelah hubungan seks terakhir yang tidak
terlindungi.
- Menggunakan
pelindung jika berhubungan dengan orang yang tidak jelas status Human Immunodeficiency
Virus (HIV) nya.
- Tidak
bertukar jarum suntik,jarum tato, dan sebagainya.
- Mencegah
infeksi kejanin / bayi baru lahir.
Apabila
terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV), maka terpinya yaitu :
- Pengendalian Infeksi Opurtunistik
Bertujuan menghilangkan,mengendalikan,
dan pemulihan infeksi opurtunistik,nasokomial, atau sepsis. Tidakan
pengendalian infeksi yang aman untuk mencegah kontaminasi bakteri dan
komplikasi penyebab sepsis harus dipertahankan bagi pasien dilingkungan
perawatan kritis.
- Terapi AZT (Azidotimidin)
Disetujui FDA (1987)
untuk penggunaan obat antiviral AZT yang efektif terhadap AIDS, obat ini
menghambat replikasi antiviral Human Immunodeficiency Virus (HIV) dengan
menghambat enzim pembalik traskriptase. AZT tersedia untuk pasien AIDS yang jumlah sel T4 nya <>3 . Sekarang, AZT tersedia untuk pasien dengan Human Immunodeficiency
Virus (HIV) positif asimptomatik dan sel T4 > 500 mm3
- Terapi Antiviral Baru
Beberapa antiviral baru
yang meningkatkan aktivitas system imun dengan menghambat replikasi virus /
memutuskan rantai reproduksi virus pada prosesnya. Obat-obat ini adalah :
– Didanosine
– Ribavirin
– Diedoxycytidine
– Recombinant CD 4
dapat larut
- Vaksin dan Rekonstruksi Virus
Upaya rekonstruksi imun
dan vaksin dengan agen tersebut seperti interferon, maka perawat unit khusus
perawatan kritis dapat menggunakan keahlian dibidang proses keperawatan dan
penelitian untuk menunjang pemahaman dan keberhasilan terapi AIDS.
- Pendidikan untuk menghindari alcohol dan obat terlarang, makan-makanan sehat,hindari stress,gizi yang kurang,alcohol dan obat-obatan yang mengganggu fungsi imun.
- Menghindari infeksi lain, karena infeksi itu dapat mengaktifkan sel T dan mempercepat reflikasi Human Immunodeficiency Virus (HIV).
Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
a. Riwayat Penyakit
Jenis infeksi sering memberikan petunjuk
pertama karena sifat kelainan imun. Umur kronologis pasien juga mempengaruhi imunokompetens. Respon imun sangat
tertekan pada orang yang sangat muda karena belum berkembangnya kelenjar timus.
Pada lansia, atropi kelenjar timus dapat meningkatkan kerentanan terhadap
infeksi. Banyak penyakit kronik yang berhubungan dengan melemahnya fungsi imun.
Diabetes meilitus, anemia aplastik, kanker adalah beberapa penyakit yang
kronis, keberadaan penyakit seperti ini harus dianggap sebagai factor penunjang
saat mengkaji status imunokompetens pasien. Berikut bentuk kelainan hospes dan
penyakit serta terapi yang berhubungan dengan kelainan hospes :
- Kerusakan
respon imun seluler (Limfosit T )
Terapi
radiasi,defisiensi nutrisi,penuaan,aplasia
timik,limpoma,kortikosteroid,globulin anti limfosit,disfungsi timik congenital.
- Kerusakan
imunitas humoral (Antibodi)
Limfositik
leukemia kronis,mieloma,hipogamaglobulemia congenital,protein – liosing
enteropati (peradangan usus)
b. Pemeriksaan
Fisik (Objektif) dan Keluhan (Sujektif)
- Aktifitas /
Istirahat
Gejala : Mudah
lelah,intoleran activity,progresi malaise,perubahan pola tidur.
Tanda :
Kelemahan otot, menurunnya massa otot, respon fisiologi aktifitas ( Perubahan
TD, frekuensi Jantun dan pernafasan ).
- Sirkulasi
Gejala :
Penyembuhan yang lambat (anemia), perdarahan lama pada cedera.
Tanda :
Perubahan TD postural,menurunnya volume nadi perifer, pucat / sianosis,
perpanjangan pengisian kapiler.
- Integritas dan
Ego
Gejala : Stress
berhubungan dengan kehilangan,mengkuatirkan penampilan, mengingkari doagnosa,
putus asa,dan sebagainya.
Tanda :
Mengingkari,cemas,depresi,takut,menarik diri, marah.
- Eliminasi
Gejala : Diare
intermitten, terus – menerus, sering dengan atau tanpa kram abdominal, nyeri
panggul, rasa terbakar saat miksi
Tanda : Feces
encer dengan atau tanpa mucus atau darah, diare pekat dan sering, nyeri tekan
abdominal, lesi atau abses rectal,perianal,perubahan jumlah,warna,dan
karakteristik urine.
- Makanan /
Cairan
Gejala :
Anoreksia, mual muntah, disfagia
Tanda : Turgor
kulit buruk, lesi rongga mulut, kesehatan gigi dan gusi yang buruk, edema
- Hygiene
Gejala : Tidak
dapat menyelesaikan AKS
Tanda :
Penampilan tidak rapi, kurang perawatan diri.
- Neurosensoro
Gejala : Pusing,
sakit kepala, perubahan status mental,kerusakan status indera,kelemahan
otot,tremor,perubahan penglihatan.
Tanda :
Perubahan status mental, ide paranoid, ansietas, refleks tidak
normal,tremor,kejang,hemiparesis,kejang.
- Nyeri /
Kenyamanan
Gejala : Nyeri
umum / local, rasa terbakar, sakit kepala,nyeri dada pleuritis.
Tanda : Bengkak
sendi, nyeri kelenjar,nyeri tekan,penurunan rentan gerak,pincang.
- Pernafasan
Gejala : ISK
sering atau menetap, napas pendek progresif, batuk, sesak pada dada.
Tanda :
Takipnea, distress pernapasan, perubahan bunyi napas, adanya sputum.
- Keamanan
Gejala : Riwayat
jatuh, terbakar,pingsan,luka,transfuse darah,penyakit defisiensi imun, demam
berulang,berkeringat malam.
Tanda :
Perubahan integritas kulit,luka perianal / abses, timbulnya nodul, pelebaran
kelenjar limfe, menurunya kekuatan umum, tekanan umum.
-Seksualitas
Gejala : Riwayat
berprilaku seks beresiko tinggi,menurunnya libido,penggunaan pil pencegah
kehamilan.
Tanda :
Kehamilan,herpes genetalia
- Interaksi
Sosial
Gejala : Masalah
yang ditimbulkan oleh diagnosis,isolasi,kesepian,adanya trauma AIDS
Tanda :
Perubahan interaksi
- Penyuluhan /
Pembelajaran
Gejala :
Kegagalan dalam perawatan,prilaku seks beresiko tinggi,penyalahgunaan
obat-obatan IV,merokok,alkoholik.
c. Pemeriksaan
Diagnostik
a. Tes
Laboratorium
Telah
dikembangkan sejumlah tes diagnostic yang sebagian masih bersifat penelitian.
Tes dan pemeriksaan laboratorium digunakan untuk mendiagnosis Human
Immunodeficiency Virus (HIV) dan memantau perkembangan penyakit serta responnya
terhadap terapi Human Immunodeficiency Virus (HIV)
1. Serologis
- Tes antibody
serum
Skrining Human
Immunodeficiency Virus (HIV) dan ELISA. Hasil tes positif, tapi bukan merupakan
diagnosa
- Tes blot
western
Mengkonfirmasi diagnosa Human
Immunodeficiency Virus (HIV)
- Sel T limfosit
Penurunan jumlah
total
- Sel T4 helper
Indikator system
imun (jumlah <200>
- T8 ( sel
supresor sitopatik )
Rasio terbalik (
2 : 1 ) atau lebih besar dari sel suppressor pada sel helper ( T8 ke T4 )
mengindikasikan supresi imun.
- P24 ( Protein
pembungkus Human ImmunodeficiencyVirus (HIV ) )
Peningkatan
nilai kuantitatif protein mengidentifikasi progresi infeksi
- Kadar Ig
Meningkat,
terutama Ig A, Ig G, Ig M yang normal atau mendekati normal
- Reaksi rantai
polimerase
Mendeteksi DNA
virus dalam jumlah sedikit pada infeksi sel perifer monoseluler.
- Tes PHS
Pembungkus
hepatitis B dan antibody, sifilis, CMV mungkin positif
2. Budaya
Histologis,
pemeriksaan sitologis urine, darah, feces, cairan spina, luka, sputum, dan
sekresi, untuk mengidentifikasi adanya infeksi : parasit, protozoa, jamur,
bakteri, viral.
3. Neurologis
EEG, MRI, CT Scan otak, EMG (pemeriksaan
saraf)
- Tes Lainnya
- Sinar X dada
Menyatakan perkembangan
filtrasi interstisial dari PCP tahap lanjut atau adanya komplikasi lain
- Tes Fungsi Pulmonal
Deteksi awal pneumonia
interstisial
- Skan Gallium
Ambilan difusi pulmonal
terjadi pada PCP dan bentuk pneumonia lainnya.
- Biopsis
Diagnosa lain dari
sarcoma Kaposi
- Brankoskopi / pencucian trakeobronkial
Dilakukan dengan biopsy
pada waktu PCP ataupun dugaan kerusakan paru-paru
b. Tes Antibodi
Jika seseorang terinfeksi Human
Immunodeficiency Virus (HIV), maka system imun akan bereaksi dengan memproduksi
antibody terhadap virus tersebut. Antibody terbentuk dalam 3 – 12 minggu
setelah infeksi, atau bisa sampai 6 – 12 bulan. Hal ini menjelaskan mengapa
orang yang terinfeksi awalnya tidak memperlihatkan hasil tes positif. Tapi
antibody ternyata tidak efektif, kemampuan mendeteksi antibody Human Immunodeficiency
Virus (HIV) dalam darah memungkinkan skrining produk darah dan memudahkan
evaluasi diagnostic.
Pada tahun 1985 Food and Drug
Administration (FDA) memberi lisensi tentang uji – kadar Human Immunodeficiency
Virus (HIV) bagi semua pendonor darah atau plasma. Tes tersebut, yaitu :
1. Tes Enzym – Linked Immunosorbent Assay
( ELISA)
Mengidentifikasi antibody yang secara
spesifik ditujukan kepada virus Human Immunodeficiency Virus (HIV). ELISA tidak
menegakan diagnosa AIDS tapi hanya menunjukkan bahwa seseorang terinfeksi atau
pernah terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV). Orang yang dalam darahnya
terdapat antibody Human Immunodeficiency Virus (HIV) disebut seropositif.
2. Western Blot Assay
Mengenali antibody Human Immunodeficiency
Virus (HIV) dan memastikan seropositifitas Human Immunodeficiency Virus (HIV)
3. Indirect Immunoflouresence
Pengganti pemeriksaan western blot untuk
memastikan seropositifitas.
4. Radio Immuno Precipitation Assay ( RIPA
)
Mendeteksi
protein dari pada antibody.
c. Pelacakan Human Immunodeficiency Virus
(HIV)
Penentuan langsung ada dan aktivitasnya
Human Immunodeficiency Virus (HIV) untuk melacak perjalanan penyakit dan
responnya. Protein tersebut disebut protein virus p24, pemerikasaan p24 antigen
capture assay sangat spesifik untuk HIV – 1. tapi kadar p24 pada penderita
infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) sangat rendah, pasien dengantiter
p24 punya kemungkinan lebih lanjut lebih besar dari menjadi AIDS.
Pemeriksaan ini digunakan dengan tes
lainnya untuk mengevaluasi efek anti virus. Pemeriksaan kultur Human
Immunodeficiency Virus (HIV) atau kultur plasma kuantitatif dan viremia plasma
merupakan tes tambahan yang mengukur beban virus ( viral burden ).AIDS muncul setelah benteng
pertahanan tubuh yaitu sistem kekebalan alamiah melawan bibit penyakit runtuh
oleh virus HIV, dengan runtuhnya/hancurnya sel-sel limfosit T karena kekurangan
sel T, maka penderita mudah sekali terserang infeksi dan kanker yang sederhana
sekalipun, yang untuk orang normal tidak berarti. Jadi bukan AIDS nya sendiri yang menyebabkan
kematian penderita, melainkan infeksi dan kanker yang dideritanya. HIV biasanya ditularkan melalui hubungan seks
dengan orang yang mengidap virus tersebut dan terdapat kontak langsung dengan
darah atau produk darah dan cairan tubuh lainnya. Pada wanita virus mungkin masuk melalui luka atau
lecet pada mulut rahim/vagina. Begitu pula virus memasuki aliran darah pria
jika pada genitalnya ada luka/lecet. Hubungan seks melalui anus berisiko tinggi
untuk terinfeksi, namun juga vaginal dan oral. HIV juga dapat ditularkan
melalui kontak langsung darah dengan darah, seperti jarum suntik (pecandu obat
narkotik suntikan), transfusi darah/produk darah dan ibu hamil ke bayinya saat
melahirkan. Tidak ada bukti penularan melalui kontak sehari-hari seperti
berjabat tangan, mencium, gels bekas dipakai penderita, handuk atau melalui
closet umum, karena virus ini sangat rapuh.
Masa inkubasi/masa laten sangat tergantung pada
daya tahan tubuh masing-masing orang, rata-rata 5-10 tahun. Selama masa ini
orang tidak memperlihatkan gejala-gejala, walaupun jumlah HIV semakin bertambah
dan sel T4 semakin menururn. Semakin rendah jumlah sel T4, semakin rusak sistem
kekebalan tubuh.
Pada waktu sistem kekebalan tubuh sudah dalam
keadaan parah, seseorang yang mengidap HIV/AIDS akan mulai menampakkan
gejala-gejala AIDS. (dc)
Kamis, 05 Mei 2011
Askep Leukemia
Asuhan
Keperawatan Anak dengan Leukemia
A. Definisi
Leukemia adalah neoplasma akut atau kronis dari sel-sel pembentuk darah
dalam sumsum tulang dan limfa (Reeves, 2001). Sifat khas leukemia adalah
proliferasi tidak teratur atau akumulasi sel darah putih dalam sumsum tulang,
menggantikan elemen sumsum tulang normal. Proliferasi juga terjadi di hati,
limpa, dan nodus limfatikus. Terjadi invasi organ non hematologis seperti
meninges, traktus gastrointestinal, ginjal, dan kulit.
Leukemia limfositik akut (LLA) sering terjadi pada anak-anak. Leukemia
tergolong akut bila ada proliferasi blastosit (sel darah yang masih muda) dari
sumsum tulang. Leukemia akut merupakan keganasan primer sumsum tulang yang
berakibat terdesaknya komponen darah normal oleh komponen darah abnormal
(blastosit) yang disertai dengan penyebaran organ-organ lain. Leukemia
tergolong kronis bila ditemukan ekspansi dan akumulasi dari sel tua dan sel
muda (Tejawinata, 1996).
Selain akut dan kronik, ada juga leukemia kongenital yaitu leukemia yang
ditemukan pada bayi umur 4 minggu atau bayi yang lebih muda.
B. Etiologi
Penyebab LLA sampai sekarang belum jelas, namun
kemungkinan besar karena virus (virus onkogenik).
Faktor lain
yang berperan antara lain:
1. Faktor eksogen
seperti sinar X, sinar radioaktif, dan bahan kimia (benzol, arsen, preparat
sulfat), infeksi (virus dan bakteri).
2. Faktor endogen
seperti ras
3. Faktor konstitusi seperti kelainan kromosom, herediter
(kadang-kadang dijumpai kasus leukemia pada kakak-adik atau kembar satu telur).
Faktor
predisposisi:
1. Faktor genetik:
virus tertentu menyebabkan terjadinya perubahan struktur gen (T cell
leukimia-lymphoma virus/HTLV)
2. Radiasi
ionisasi: lingkungan kerja, prenatal, pengobatan kanker sebelumnya
3. Terpapar
zat-zat kimiawi seperti benzen, arsen, kloramfenikol, fenilbutazon, dan agen
anti neoplastik.
4. Obat-obat
imunosupresif, obat karsinogenik seperti diethylstilbestrol
5. Faktor
herediter misalnya pada kembar satu telur
6. Kelainan kromosom
Jika penyebab leukimia disebabkan oleh virus, virus
tersebut akan mudah masuk ke dalam tubuh manusia jika struktur antigen virus
tersebut sesuai dengan struktur antigen manusia. Struktur antigen manusia
terbentuk oleh struktur antigen dari berbagai alat tubuh terutama kulit dan
selaput lendir yang terletak di permukaan tubuh(antigen jaringan). Oleh WHO,
antigen jaringan ditetapkan dengan istilah HL-A (human leucocyte locus A).
Sistem HL-A individu ini diturunkan menurut hukum genetika sehingga peranan
faktor ras dan keluarga sebagai penyebab leukemia tidak dapat diabaikan.
C. Patofisiologi
Leukemia merupakan proliferasi dari sel pembuat darah yang bersifat
sistemik dan biasanya berakhir fatal. Leukemia dikatakan penyakit darah yang
disebabkan karena terjadinya kerusakan pada pabrik pembuat sel darah yaitu
sumsum tulang. Penyakit ini sering disebut kanker darah. Keadaan yang
sebenarnya sumsum tulang bekerja aktif membuat sel-sel darah tetapi yang
dihasilkan adalah sel darah yang tidak normal dan sel ini mendesak pertumbuhan
sel darah normal.
Terdapat dua mis-konsepsi yang harus diluruskan mengenai leukemia, yaitu:
1. Leukemia
merupakan overproduksi dari sel darah putih, tetapi sering ditemukan pada
leukemia akut bahwa jumlah leukosit rendah. Hal ini diakibatkan karena produksi
yang dihasilkan adalah sel yang immatur.
2. Sel immatur
tersebut tidak menyerang dan menghancurkan sel darah normal atau jaringan
vaskuler. Destruksi seluler diakibatkan proses infiltrasi dan sebagai bagian
dari konsekuensi kompetisi untuk mendapatkan elemen makanan metabolik.
D. Klasifikasi Leukimia
1. Leukemia
Mielogenus Akut (LMA)
LMA mengenai
sel stem hematopoetik yang kelak berdiferensiasi ke semua sel mieloid; monosit,
granulosit (basofil, netrofil, eosinofil), eritrosit, dan trombosit. Semua
kelompok usia dapat terkena. Insidensi meningkat sesuai dengan bertambahnya
usia. Merupakan leukemia nonlimfositik yang paling sering terjadi.
2. Leukemia
Mielogenus Krinis (LMK)
LMK juga
dimasukkan dalam sistem keganasan sel stem mieloid. Namu lebih banyak sel
normal dibanding bentuk akut, sehingga penyakit ini lebih ringan. LMK jarang
menyerang individu dibawah 20 tahun. Manifestasi mirip dengan gambaran LMA
tetapi dengan tanda dan gejala yang lebih ringan. Pasien menunjukkan tanpa
gejala selama bertahun-tahun, peningkatan leukosit kadang sampai jumlah yang
luar biasa, limpa membesar.
3. Leukemia
Limfositik Kronis (LLK)
LLK merupakan
kelainan ringan mengenai individu usia 50 – 70 tahun. Manifestasi klinis pasien
tidak menunjukkan gejala. Penyakit baru terdiagnosa saat pemeriksaan fisik atau
penanganan penyakit.
4. Leukemia
Limfositik Akut (LLA)
LLA dianggap
sebagai proliferasi ganas limfoblast. Sering terjadi pada anak-anak, laki-laki
lebih banyak dibandingkan perempuan. Puncak insiden usia 4 tahun, setelah usia
15 tahun. LLA jarang terjadi. Limfosit immatur berproliferasi dalam sumsum
tulang dan jaringan perifer sehingga mengganggu perkembangan sel normal.
E. Tanda dan Gejala
1. Anemia
Disebabkan karena produksi sel darah merah kurang akibat dari kegagalan
sumsum tulang memproduksi sel darah merah. Ditandai dengan berkurangnya
konsentrasi hemoglobin, turunnya hematokrit, jumlah sel darah merah kurang.
Anak yang menderita leukemia mengalami pucat, mudah lelah, kadang-kadang sesak
nafas.
2. Suhu tubuh
tinggi dan mudah infeksi
Disebabkan karena adanya penurunan leukosit, secara otomatis akan
menurunkan daya tahan tubuh karena leukosit yang berfungsi untuk mempertahankan
daya tahan tubuh tidak dapat bekerja secara optimal.
3. Perdarahan
Tanda-tanda perdarahan dapat dilihat dan dikaji dari adanya perdarahan
mukosa seperti gusi, hidung (epistaxis) atau perdarahan bawah kulit yang sering
disebut petekia. Perdarahan ini dapat terjadi secara spontan atau karena
trauma. Apabila kadar trombosit sangat rendah, perdarahan dapat terjadi secara
spontan.
4. Penurunan
kesadaran
Disebabkan karena adanya infiltrasi sel-sel abnormal ke otak dapat
menyebabkan berbagai gangguan seperti kejang sampai koma.
5. Penurunan nafsu
makan
6. Kelemahan dan
kelelahan fisik
F. Gambaran Klinis
Gejala yang khas berupa pucat (dapat terjadi mendadak), panas, dan
perdarahan disertai splenomegali dan kadang-kadang hepatomegali serta
limfadenopati. Perdarahan dapat didiagnosa ekimosis, petekia, epistaksis,
perdarahan gusi, dsb.
Gejala yang tidak khas ialah sakit sendi atau sakit tulang yang dapat
disalahartikan sebagai penyakit rematik. Gejala lain dapat timbul sebagai
akibat infiltrasi sel leukemia pada alat tubuh seperti lesi purpura pada kulit,
efusi pleura, kejang pada leukemia serebral.
G. Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan darah tepi, gejala yang terlihat adalah adanya pansitopenia,
limfositosis yang kadang-kadang menyebabkan gambaran darah tepi monoton dan
terdapat sel blast (menunjukkan gejala patogonomik untuk leukemia).
Pemeriksaan sumsum tulang ditemukan gambaran monoton yaitu hanya terdiri
dari sel limfopoetik patologis sedangkan sistem lain terdesak (aplasia
sekunder).
Pemeriksaan biopsi limfa memperlihatkan proliferasi sel leukemia dan sel
yang berasal dari jaringan limfa yang terdesak seperti: limfosit normal, RES,
granulosit, pulp cell.
70 – 90% dari kasus leukemia Mielogenus Kronis (LMK) menunjukkan kelainan
kromosom yaitu kromosom 21 (kromosom Philadelphia atau Ph 1).
50 – 70% dari pasien Leukemia Limfositik Akut (LLA), Leukemia Mielogenus
Akut (LMA) mempunyai kelainan berupa:
- Kelainan jumlah
kromosom seperti diploid (2n), haploid (2n-a), hiperploid
- Kariotip yang
pseudodiploid pada kasus dengan jumlah kromosom yang diploid (2n+a)
- Bertambah atau
hilangnya bagian kromosom (partial depletion)
- Terdapat marker
kromosom yaitu elemen yang secara morfologis bukan merupakan kromosom normal,
dari bentuk yang sangat besar sampai yang sangat kecil. Untuk menentukan
pengobatannya harus diketahui jenis kelainan yang ditemukan. Pada leukemia
biasanya didapatkan dari hasil darah tepi berupa limfositosis lebih dari 80%
atau terdapat sel blast. Juga diperlukan pemeriksaan dari sumsum tulang dengan
menggunakan mikroskop elektron akan terlihat adanya sel patologis.
H. Penatalaksanaan
o Program terapi
Pengobatan
terutama ditunjukkan untuk 2 hal (Netty Tejawinata, 1996) yaitu:
1. Memperbaiki
keadaan umum dengan tindakan:
- Tranfusi sel
darah merah padat (Pocket Red Cell-PRC) untuk mengatasi anemi. Apabila terjadi
perdarahan hebat dan jumlah trombosit kurang dari 10.000/mm³, maka diperlukan
transfusi trombosit.
- Pemberian
antibiotik profilaksis untuk mencegah infeksi.
2. Pengobatan
spesifik
Terutama
ditunjukkan untuk mengatasi sel-sel yang abnormal. Pelaksanaannya tergantung
pada kebijaksanaan masing-masing rumah sakit, tetapi prinsip dasar
pelaksanaannya adalah sebagai berikut:
- Induksi untuk
mencapai remisi: obat yang diberikan untuk mengatasi kanker sering disebut
sitostatika (kemoterapi). Obat diberikan secara kombinasi dengan maksud untuk
mengurangi sel-sel blastosit sampai 5% baik secara sistemik maupun intratekal
sehingga dapat mengurangi gejala-gajala yang tampak.
- Intensifikasi,
yaitu pengobatan secara intensif agar sel-sel yang tersisa tidak memperbanyak
diri lagi.
- Mencegah
penyebaran sel-sel abnormal ke sistem saraf pusat
- Terapi rumatan (pemeliharaan) dimaksudkan untuk
mempertahankan masa remisi
3 fase Pelaksanaan Kemoterapi:
1. Fase Induksi
Dimulai 4-6
minggu setelah diagnosa ditegakkan. Pada fase ini diberikan terapi
kortikosteroid (prednison), vineristin, dan L-asparaginase. Fase induksi
dinyatakan berhasil jika tanda-tanda penyakit berkurang atau tidak ada dan di
dalam sumsum tulang ditemukan jumlah sel muda kuurang dari 5%.
2. Fase
profilaksis sistem saraf pusat
Pada fase ini
diberikan terapi methotrexate, cytarabine, dan hydrocortison melalui intratekal
untuk mencegah invasi sel leukemia ke otak. Terapi irradiasi kranial dilakukan
hanya pada pasien leukemia yang mengalami gangguan sistem saraf pusat.
3. Konsolidasi
Pada fase ini,
kombinasi pengobatan dilakukan untuk mempertahankan remisis dan mengurangi
jumlah sel-sel leukemia yang beredar dalam tubuh. Secara berkala, dilakukan
pemeriksaan darah lengkap untuk menilai respon sumsum tulang terhadap
pengobatan. Jika terjadi supresi sumsum tulang, maka pengobatan dihentikan
sementara atau dosis obat dikurangi.
o Pengobatan
imunologik
Bertujuan untuk menghilangkan sel leukemia yang ada di dalam tubuh agar
pasien dapat sembuh sempurna. Pengobatan seluruhnya dihentikan setelah 3 tahun
remisi terus menerus.
I. Asuhan Keperawata
Diagnosa
Keperawatan
1. Risiko tinggi kekurangan volume cairan
b.d intake dan output cairan, kehilangan berlebihan: muntah, perdarahan, diare,
penurunan pemasukan cairan: mual, anoreksia, peningkatan kebutuhan cairan:
demam, hipermetabolik.
Tujuan: volume cairan
terpenuhi
Kriteria hasil:
- Volume cairan
adekuat
- Mukosa lembab
- Tanda vital
stabil: TD 90/60 mmHg, nadi 100x/menit, RR 20x/menit
- Nadi teraba
- Pengeluaran
urin 30 ml/jam
- Kapileri refill
<2 detik
Intervensi:
a. Monitor intake
dan output cairan
b. Monitor berat
badan
c. Monitor TD dan
frekuensi jantung
d. Evaluasi turgor
kulit, pengisian kapiler dan kondisi membran mukosa
e. Beri masukan
cairan 3-4 L/hari
f. Inspeksi
kulit/membran mukosa untuk petekie, area ekimosis; perhatikan perdarahan gusi,
darah warna karat atau samar pada feses dan urin, perdarahan lanjut dari sisi
tusukan invasif.
g. Implementasikan
tindakan untuk mencegah cidera jaringan/perdarahan
h. Batasi
perawatan oral untuk mencuci mulut bila diindikasikan
i. Berikan diet
makanan halus
j. Kolaborasi:
- Berikan cairan
IV sesuai indikasi
- Awasi
pemeriksaan laboratorium: trombosit, Hb/Ht, pembekuan
- Berikan SDM,
trombosit, faktor pembekuan
- Pertahankan
alat akses vaskuler sentral eksternal (kateter arteri subklavikula, tunneld,
port implan)
- Berikan obat
sesuai indikasi: allopurinol, kalium asetat atau asetat, natrium bikarbonat,
pelunak feses.
2. Nyeri b.d agen cidera fisik
Tujuan: nyeri teratasi
Kriteria hasil:
- Pasien
menyatakan nyeri hilang atau terkontrol
- Menunjukkan
perilaku penanganan nyeri
- Tampak rileks dan mampu istirahat
Intervensi:
a. Kaji keluhan
nyeri, perhatikan perubahan pada derajat nyeri (gunakan skala 0-10)
b. Awasi tanda
vital, perhatikan petujuk non-verbal misal tegangan otot, gelisah
c. Berikan
lingkungan tenang dan kurangi rangsangan penuh stres.
d. Tempatkan klien
pada posisi nyaman dan ganjal sendi, ekstremitas dengan bantal.
e. Ubah posisi
secara periodik dan bantu latihan rentang gerak lembut.
f. Berikan
tindakan kenyamanan (pijatan, kompres dingin dan dukungan psikologis)
g. Kaji
ulang/tingkatkan intervensi kenyamanan klien
h. Evaluasi dan
dukung mekanisme koping klien
i. Dorong
menggunakan teknik manajemen nyeri. Contoh: latihan relaksasi/nafas dalam,
sentuhan.
j. Bantu aktivitas
terapeutik, teknik relaksasi.
k. Kolaborasi:
- Awasi kadar
asam urat, berikan obat sesuai indikasi: analgesik (asetaminofen), narkotik
(kodein, meperidin, morfin, hidromorfin), agen ansietas (diazepam, lorazepam)
3. Risiko tinggi infeksi b.d menurunnya
sistem pertahanan tubuh sekunder (gangguan pematangan SDP, peningkatan jumlah
limfosit immatur, imunosupresi, penekanan sumsum tulang)
Tujuan: klien bebas
dari infeksi
Kriteria hasil:
- Keadaan temperatur
normal
- Hasil kultur
negatif
- Peningkatan
penyembuhan
Intervensi:
a. Tempatkan pada
ruangan khusus. Batasi pengunjung sesuai indikasi
b. Cuci tangan
untuk semua petugas dan pengunjung
c. Awasi suhu,
perhatikan hubungan antara peningkatan suhu dan pengobatan kemoterapi.
Observasi demam sehubungan dengan takikardia, hipotensi, perubahan mentak
samar.
d. Cegah
menggigil: tingkatkan cairan, berikan kompres
e. Dorong sering
mengubah posisi, napas dalam, dan batuk
f. Auskultasi
bunyi nafas, perhatikan gemericik, ronchi; inspeksi sekresi terhadap perubahan
karakteristik, contoh peningkatan sputum atau sputum kental.
g. Inspeksi kulit
untuk nyeri tekan, area eritematosus; luka terbuka. Bersihkan kulit dengan
larutan antibakterial.
h. Inspeksi
membran mukosa mulut. Bersihkan mulut dengan sikat gigi halus.
i. Tingkatkan
kebersihan perianal
j. Diet tinggi
protein dan cairan
k. Hindari
prosedur invasiv (tusukan jarum dan injeksi) bila mungkin
l. Kolaborasi
- Awasi
pemeriksaan lab. Misal: hitung darah lengkap, apakah SDP turun atau tiba-tiba
terjadi perubahan pada neutrofil; kultur gram/sensitivitas.
Kaji ulang seri
foto dada, berikan obat sesuai indikasi, hindari antipiretik yang mengandung
aspirin, berikan diet rendah bakteri, misal makanan dimasak.
4. Risiko terjadi perdarahan b.d
trombositopenia
Tujuan: klien bebas
dari gejala perdarahan
Kriteria hasil:
- TD 90/60 mmHg
- Nadi 100x/menit
- Ekskresi dan
sekresi negatif terhadap darah
- Ht
40-54%(laki-laki), 37-47%(perempuan)
- Hb 14-18 gr%
Intervensi:
a. Pantau hitung
trombosit dengan jumlah 50.000/ml, risiko terjadi perdarahan. Pantau Ht dan Hb
terhadap tanda perdarahan.
b. Minta klien
untuk mengingatkan perawat bila ada rembesan darah dari gusi
c. Inspeksi
kkulit, mulut, hidung, urin, feses, muntahan, dan tempat tusukan IV terhadap
perdarahan.
d. Gunakan jarum
ukuran kecil
e. Jika terjadi
perdarahan, tinggikan bagian yang sakit dan berikan kompres dingin dan tekan
perlahan
f. Beri bantalan
tempat tidur untuk mencegah trauma
g. Anjurkan pada
klien untuk menggunakan sikat gigi halus atau pencukur listrik.
5. Intoleransi aktivitas b.d kelemahan
umum
Tujuan: klien mampu
menoleransi aktivitas
Kriteria hasil:
- Peningkatan
toleransi aktivitas yang dapat diukur
- Berpartisipasi
dalam aktivitas sehari-hari sesuai tingkat kemampuan
- Menunjukkan
penurunan tanda fisiologis tidak toleran misal nadi, pernafasan, dan TD dalam
batas normal
Intervensi:
a. Evaluasi
laporan kelemahan, perhatikan ketidakmampuan untuk berpartisipasi dalam
aktivitas. Berikan lingkungan tenang dan periode istirahat tanpa gangguan.
b. Implementasikan
teknik penghematan energi. Contoh: lebih baik duduk daripada berdiri.
c. Jadwalkan makan
sekitar kemoterapi. Jaga kebersihan mulut. Berikan antiemetik sesuai indikasi.
d. Kolaborasi:
berikan oksigen tambahan.
J. Bibliografi
Behrman,
Kliegman, Arvin. 2000. Ilmu Kesehatan Anak. EGC
Ngastiyah.
1997. Perawatan Anak Sakit. EGC
Nursalam, dkk.
2005. Asuhan Keperawatan Bayi dan Anak. Salemba Merdeka.
Langganan:
Postingan (Atom)
Home